Trawlmediaindonesia.id
Jakarta – Bulan Suci Ramadan merupakan momentum yang sangat dinanti oleh umat Muslim di seluruh dunia. Tak sekadar menahan lapar dan dahaga, Ramadan terbagi menjadi tiga fase istimewa yang menjanjikan pahala serta ampunan yang berlipat ganda.
Dalam sebuah tausiyah singkat Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jakarta Utara KH. Mawardi Abdul Gani, dijelaskan bahwa 10 hari pertama Ramadan adalah fase Rahmat (kasih sayang Allah), 10 hari kedua adalah fase Maghfirah (ampunan), dan 10 hari terakhir adalah fase pembebasan dari api neraka.
Tantangan dari Dalam Diri
Meskipun sebuah hadis menyebutkan bahwa saat Ramadan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu, nyatanya masih banyak manusia yang melakukan perbuatan buruk. Hal ini menimbulkan pertanyaan: jika setan diikat, mengapa kejahatan masih ada?
Menurut narasumber dalam rekaman tersebut, jawabannya terletak pada hawa nafsu, khususnya pada tingkatan yang paling rendah.
"Kenapa kok setan nggak nge-godain tapi manusia masih saja atau masih tetap melakukan perbuatan buruk? Selain daripada setan, dorongan kejahatan itu juga dari yang disebut dengan hawa nafsu... Tingkatan yang paling rendah itu nafsu Lawwamah, nafsu yang di dalamnya ada sifat-sifat kebinatangan," kata Mawardi saat ditemui di Kantor Kemenag Jakut, Rabu (25/2/2026).
Sifat kebinatangan ini mencakup keserakahan, keinginan untuk sekadar makan, minum, dan pemuasan hasrat biologis tanpa kendali.
Untuk menghadapi tantangan nafsu tersebut dan memaksimalkan fase ampunan di 10 hari kedua, umat Muslim diimbau untuk memperkuat empat amalan utama:
- Puasa di siang hari.
- Membaca Al-Qur'an.
- Salat (terutama salat malam/Tarawih).
- Sedekah.
Khusus mengenai sedekah, ditekankan bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk mengeluarkan harta karena pahalanya bisa berlipat ganda hingga sepuluh kali lipat atau lebih.
"Harta yang dikumpulkan mungkin bertahun-tahun, ada hak orang lain, maka dikeluarkan di bulan Ramadan... Kenapa harus di bulan Ramadan? Karena pahalanya bisa berlipat ganda, sepuluh kali lipat," sambungnya Mawardi.
Ampunan sebagai Kunci Keberkahan Dunia
Menutup tausiyahnya, narasumber mengingatkan bahwa mengejar ampunan Allah bukan hanya untuk urusan akhirat, melainkan juga kunci kelancaran urusan di dunia.
"Penting sekali mendapat ampunan dari Allah, karena ketika kita mendapat derajat ampunan dari Allah, itu bukan cuma sekadar urusan akhirat, urusan dunia juga beres. Ngikutin itu," ucapnya.
Umat Muslim diajak untuk memperbaiki kualitas ibadah, baik yang wajib maupun yang sunah, guna meraih kemuliaan di bulan yang penuh keberkahan ini.


