-->
  • Jelajahi

    Copyright © Trawlmediaindonesia
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Tokoh Lintas Elemen Papua Tengah Deklarasi Kutuk Kekerasan KKB: Jangan Nodai Tanah Diberkati dengan Darah

    trawlmediaindonesia
    Senin, 16 Februari 2026, 18:19 WIB Last Updated 2026-02-16T11:19:25Z

     

    Trawlmediaindonesia.id


    Nabire – Bertempat di Sekretariat DPD BMP RI, Kelurahan Oyehe, Nabire, pada Senin (16/2), para Kepala Suku, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, hingga Tokoh Perempuan berkumpul untuk menyatakan sikap tegas demi menjaga stabilitas dan kedamaian Bumi Cenderawasih. Aksi Deklarasi ini adalah bentuk penolakan keras Kelompok Separatis Bersenjata (KSB) terus menguat di jantung Provinsi Papua Tengah. 



    Menolak Trauma, Menjaga Nadi Ekonomi

    Barisan Merah Putih (BMP) gandeng berbagai aliansi adat  dipicu oleh keprihatinan mendalam atas rentetan kekerasan di wilayah pegunungan, termasuk aksi pembunuhan pilot dan gangguan terhadap tenaga publik.


    Ketua DPD BMP RI Papua Tengah, Melkisedek Rumawi, dengan tegas menekankan kekerasan bersenjata berdampak langsung pada kelumpuhan ekonomi.


     "Jika penerbangan logistik terhenti karena rasa takut, masyarakat kecil dan Orang Asli Papua (OAP) yang paling menderita. Pendidikan lumpuh, kesehatan terhenti, dan distribusi pangan terputus," tegas Melki.


    Suara dari Akar Rumput: Peran Tokoh Adat


    Diskusi yang berlangsung hangat tersebut menjadi panggung bagi para pemimpin adat untuk menyuarakan keresahan mereka:


     Karel Misiro (Ketua LMA Nabire) menyampaikan " Peran kepala suku dalam mengendalikan warganya sangatlah penting dan perlunya pemerintah membuka diri untuk bekerja sama dengan tokoh adat," tutur nya. 



    Sementara itu Wolter Belau (Dewan Adat Meepago) mengingatkan pahitnya trauma masa lalu di Intan Jaya. 


    "Tentunya bila kita melihat pahitnya trauma masa lalu apa yang telah terjadi di Intan jadi masih menjadi sejarah kelam, kami meminta para tokoh turun langsung menangani masalah ini agar tidak berlarut-larut," pinta dia. 


    Ayub Wonda (Kepala Suku D3N) , dengan tegas menyatakan bahwa tenaga medis, guru, pilot, dan jurnalis adalah petugas kemanusiaan yang harus dilindungi.


     "Jika ada masalah, selesaikan secara ksatria, jangan sasar mereka yang melayani rakyat," tegasnya. 



    Di bawah langit Nabire, para tokoh secara serentak menyampaikan Deklarasi yang di bacakan langsung oleh Melki Sedek Rumawi dan di ikuti oleh para tokoh adat. 


    "Kami mengutuk keras segala tindakan kelompok separatis bersenjata terhadap tenaga medis, guru, pilot, maupun masyarakat sipil. Tanah Papua adalah tanah diberkati yang tidak boleh dinodai tumpahan darah. Kami berdiri teguh bersama pemerintah untuk menjaga kedamaian demi masa depan anak cucu kami!"



    Deklarasi ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat akar rumput di Papua Tengah merindukan pembangunan yang berkelanjutan tanpa bayang-bayang intimidasi, sekaligus komitmen untuk tetap setia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini