Trawlmediaindonesia.id
Jakarta – Tentang Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah ulama dan tokoh ormas Islam di tengah memanasnya konflik geopolitik dunia memunculkan sorotan baru.
Salah satu suara yang cukup tajam datang dari mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Ia menilai pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk mendengar aspirasi umat sekaligus memperjelas posisi Indonesia dalam dinamika konflik global.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana Ramadan itu tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga forum diskusi mengenai berbagai persoalan strategis dunia, termasuk konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan United States.
Namun yang menjadi perhatian Din Syamsuddin adalah posisi Indonesia dalam forum internasional yang dikenal sebagai Board of Peace (BoP)—forum yang disebut-sebut diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Kalau Sudah Bergabung, Harus Berani Bersikap
Menurut Din Syamsuddin, jika Indonesia memang telah menjadi bagian dari forum tersebut, maka pemerintah tidak seharusnya hanya menjadi peserta pasif.
Ia menilai forum semacam itu seharusnya dimanfaatkan untuk menyuarakan sikap moral dan diplomatik Indonesia terhadap konflik yang terjadi di berbagai kawasan dunia.
“Kalau memang bergabung, maka Indonesia harus berani menyampaikan sikap. Termasuk mengingatkan pihak-pihak yang memicu konflik,” ujar Din dalam keterangannya, Sabtu (7/3/2026).
Pernyataan ini menjadi sorotan karena muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama setelah sejumlah aksi militer di Timur Tengah yang melibatkan kekuatan besar dunia.
Indonesia di Persimpangan Diplomasi
Dalam konteks ini, posisi Indonesia memang tidak sederhana. Sebagai negara yang menganut prinsip politik luar negeri bebas aktif, Indonesia diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara hubungan strategis dengan negara besar sekaligus tetap mempertahankan independensi sikapnya di panggung internasional.
Pertemuan antara Presiden Prabowo dan para ulama pun dipandang sebagian pihak sebagai langkah penting untuk merumuskan sikap nasional yang lebih luas, tidak hanya dari perspektif pemerintah, tetapi juga dari pandangan tokoh-tokoh masyarakat.
Antara Diplomasi dan Suara Moral
Pandangan Din Syamsuddin juga mengingatkan bahwa Indonesia selama ini dikenal sebagai negara yang sering mengambil peran dalam diplomasi perdamaian internasional. Namun di tengah konflik global yang semakin kompleks, muncul pertanyaan yang lebih besar:
Apakah Indonesia hanya akan menjadi pengamat, atau justru berani menggunakan forum internasional untuk menyuarakan sikap yang lebih tegas?
Pertanyaan itulah yang kini menjadi bagian dari diskusi publik setelah pertemuan Presiden Prabowo dengan para tokoh ulama.
Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, suara Indonesia di panggung internasional dinilai akan semakin menentukan arah diplomasi kawasan—dan mungkin juga posisi moral negara ini dalam konflik global.


