-->
  • Jelajahi

    Copyright © Trawlmediaindonesia
    Best Viral Premium Blogger Templates

    OIC Youth Indonesia Gandeng Muhammadiyah dan Kedubes Azerbaijan Dorong Diplomasi Pemuda

    trawlmediaindonesia
    Jumat, 06 Maret 2026, 00:03 WIB Last Updated 2026-03-05T17:04:01Z


    Trawlmediaindonesia.id

    Jakarta – Organisasi Kerja Sama Islam Youth Indonesia atau OIC Youth Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran generasi muda dalam diplomasi global melalui pendekatan smart power diplomacy. Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Ramadan Gathering yang diselenggarakan PP Muhammadiyah pada Kamis (5/3/2026) di Kantor Pusat Muhammadiyah, Jakarta Pusat.



    President of OIC Youth Indonesia, Astrid Nadya Rizqita, menyampaikan bahwa organisasinya hadir sebagai wadah kolaborasi berbagai organisasi kepemudaan Islam dan komunitas kreatif untuk terlibat dalam aktivitas internasional.


    “OIC Youth Indonesia memang menjadi payung berbagai OKP Islam, organ kepemudaan, dan juga komunitas Islam. Selain itu, alhamdulillah tahun ini kita bekerja sama dengan Kedutaan Besar Azerbaijan untuk Indonesia dan juga Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah,” kata Astrid usai acara Ramadan Gathering di Kantor Pusat Muhammadiyah Jakarta.


    Astrid menjelaskan bahwa OIC Youth Indonesia memiliki karakter berbeda dengan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang merupakan organisasi antar-pemerintah. OIC Youth Indonesia, kata dia, merupakan organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada penguatan ekosistem kepemudaan.


    “Kami ini OIC Youth Indonesia adalah youth organization, civil society, tempat berhimpunnya berbagai organ kepemudaan Islam di Indonesia. Kami berada di ekosistem kepemudaan OKI melalui badan-badan OKI, pelatihan diplomasi, dan forum-forum lainnya,” ujarnya.


    Dalam upaya memperkuat kapasitas generasi muda di bidang diplomasi, OIC Youth Indonesia juga menjalankan sejumlah program strategis. Salah satu di antaranya adalah Model OIC, yaitu simulasi sidang diplomatik yang dirancang untuk melatih pemuda memahami praktik diplomasi internasional.


    “Salah satu program unggulan adalah Model OIC. Ini adalah simulasi sidang OKI atau pelatihan diplomasi OKI yang sudah disahkan dalam forum Menlu OKI tahun 2016 dan forum Menpora OKI di tahun yang sama,” tuturnya.


    Ia menilai program tersebut penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa diplomasi tidak semata-mata menjadi ranah diplomat profesional, melainkan juga melibatkan berbagai sektor lain seperti sains, riset, kesehatan, hingga perdagangan.


    Menanggapi dinamika geopolitik global, OIC Youth Indonesia menyatakan tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Dalam kesempatan tersebut, organisasi ini juga menyampaikan duka atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Timur Tengah.


    “Kami merujuk pada Undang-Undang Hubungan Luar Negeri Nomor 37 Tahun 1999. Kami menyampaikan belasungkawa kepada Kedubes Iran atas syahidnya Ali Khamenei dan juga wafatnya ratusan siswi di Iran,” ujarnya.


    Di akhir pernyataannya, Astrid berharap generasi muda Indonesia mampu memadukan kekuatan budaya dan nilai (soft power) dengan kekuatan ekonomi (hard power) guna memperkuat posisi Indonesia di kancah global.


    “Harapannya pemuda bisa menjadi aktor dari smart power diplomacy, bukan hanya soft power. Karena kita di Muhammadiyah ini salah satu organ keagamaan terkaya di dunia, artinya ada hard power, ada kekuatan ekonomi. Kita punya cita-cita agar pemuda bisa menjadi aktor smart power agar Indonesia benar-benar dipandang di mata dunia,” tutup Astrid.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini