Trawlmediaindonesia.id
Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (DPP KSPSI) menggelar Forum Urung Rembuk yang dirangkaikan dengan kegiatan buka puasa bersama sejumlah serikat pekerja dan serikat buruh nasional. Forum tersebut mengangkat tema “Dampak bagi Kaum Buruh Akibat Perjanjian Tarif Imbal Balik dengan AS dan Perang Israel–AS dengan Iran.”
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Jakarta Selatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang. Di antaranya Dr. Fadhil Hasan, ekonom sekaligus peneliti senior INDEF, serta Dr. Teguh Santosa, pengamat hubungan internasional dan peneliti senior GREAT Institute. Sementara itu, Anton Permana, pengamat militer dan geostrategi dari TDM, serta Dr. Rekson Silaban, pengamat dan penggiat bidang perburuhan, hadir sebagai penanggap dalam forum tersebut.
Acara juga dihadiri oleh Rocky Gerung, para ketua, serta pimpinan federasi serikat pekerja/serikat buruh yang tergabung dalam SPSI.
Menariknya, pada forum kali ini Rocky Gerung tidak menyampaikan kritik politik seperti yang biasa ia lakukan. Ia justru menyampaikan tausiyah Ramadhan bertajuk “Puasa dan Kesabaran Kelas.”
Dalam pemaparannya, Rocky menyinggung kondisi buruh yang menurutnya tengah menghadapi tekanan ekonomi yang berat di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Kaum buruh Indonesia saat ini seperti sedang mengikat pinggang semakin kencang. Pemerintah belum sepenuhnya berpihak, ditambah situasi global seperti penutupan Selat Hormuz yang membuat kondisi ekonomi makin menekan dan emak-emak ikut menjerit karena harga-harga tidak stabil,” ujar Rocky dalam tausiyahnya.
Ia juga menilai buruh sejak lama menjadi tulang punggung ekonomi keluarga yang harus menghadapi berbagai ketidakpastian.
“Buruh merupakan soko guru ekonomi keluarga. Di tengah keresahan yang ada, mereka tetap menunjukkan kesabaran. Semoga negara tidak justru menyengsarakan mereka melalui kebijakan-kebijakannya,” lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut Rocky juga menyatakan keinginannya untuk lebih aktif bersama gerakan buruh di bawah kepemimpinan KSPSI.
“Ke depan saya akan masuk dalam barisan serikat pekerja di bawah pimpinan Bung Jumhur Hidayat. Bukan sekadar berada di gerbong, tapi siap menjadi lokomotifnya,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum KSPSI Moh Jumhur Hidayat berharap konflik global yang sedang terjadi dapat segera berakhir agar tidak menimbulkan dampak berkepanjangan terhadap perekonomian dan tenaga kerja.
“Kita berharap perang ini cepat selesai. Soal tarif nol persen untuk produk yang tidak diproduksi di Amerika seperti CPO dan tekstil sebenarnya bisa menguntungkan buruh kita. Tetapi yang paling penting konflik ini segera berakhir,” ujar Jumhur.
Ia juga menilai dinamika geopolitik di Timur Tengah akan berpengaruh terhadap stabilitas kawasan, termasuk isu perdamaian di Gaza.
“Kalau Iran yang menang, peluang terciptanya perdamaian di Gaza akan lebih terbuka,” tegasnya.
Jumhur juga menyoroti sejumlah klausul dalam perjanjian perdagangan yang menurutnya belum sepenuhnya menguntungkan pekerja, terutama terkait isu outsourcing atau alih daya.
“Kita sudah berjuang keras agar tidak ada lagi praktik outsourcing yang merugikan pekerja. Pemerintah juga harus lebih selektif dalam kebijakan alih daya, termasuk soal kontrak kerja yang sering dipaksakan,” katanya.
Menurutnya, dampak perang global sudah mulai terasa pada sektor industri nasional, termasuk sektor otomotif.
“Saya mendapat laporan bahwa ekspor otomotif ke Timur Tengah sudah turun hingga 50 persen. Kalau perang terus berlangsung, produksi bisa berhenti. Itu dampak yang sangat besar,” ujarnya.
Meski demikian, Jumhur menilai ketergantungan Indonesia terhadap perdagangan global relatif masih lebih kecil dibandingkan beberapa negara lain di kawasan.
“Alhamdulillah, ketergantungan perdagangan global Indonesia masih relatif rendah. Dibandingkan negara seperti Malaysia, kita masih lebih kecil. Mudah-mudahan ini membuat dampaknya tidak terlalu signifikan bagi perekonomian nasional,” pungkasnya.


