Trawlmediaindonesia.id
Bekasi – Proyek pekerjaan drainase yang dilaksanakan oleh Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Bekasi kembali menjadi sorotan. Berdasarkan pantauan awak media di lokasi, tepatnya di wilayah jalan utama sersan misnadi RW 15 kelurahan perwira, Kecamatan Bekasi Utara, ditemukan adanya dugaan ketidaksesuaian dalam proses pemasangan U-ditch.
Dalam papan informasi proyek yang terpasang di lokasi, tercantum bahwa kegiatan tersebut merupakan program pengelolaan dan pengembangan sistem drainase dengan sumber dana dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta dikerjakan oleh penyedia jasa CV ABDEE ANTUSIAS dengan nilai kontrak sekitar Rp96.818.000,00 juta.
Namun di lapangan, pemasangan U-ditch diduga tidak mengikuti standar teknis. Terlihat jelas bahwa dasar galian masih dalam kondisi tergenang air saat proses pemasangan dilakukan. Seharusnya, sebelum pemasangan beton pracetak seperti U-ditch, kondisi tanah harus dipastikan kering, padat, dan rata agar hasil pekerjaan maksimal dan tahan lama.
Temuan lain yang menjadi sorotan adalah penggunaan puing bekas galian untuk menutupi sisi u-Ditch. Material tersebut tampak bercampur tanah dan batuan tidak seragam.
Dalam praktik konstruksi yang baik, penibunan seharusnya menggunakan material pilihan dan dilakukan pemadatan bertahap. Jika tidak, potensi ambles dan retak bahu saluran hanya Tinggal menunggu waktu.
Padahal, adanya pembangunan drainase u-Ditch. Seharusnya bisa berfungsi untuk kelancaran pembangunan air agar bisa bermanfaat bagi warga.
Menurut james sevin simanjuntak, dari lmp. Laaskaar merah putih pemerhati pembangunan infrastruktur kota Bekasi, dirinya menilai,pada pembangunan item u-Ditch,seharusnya pihak kontraktor terlebih dahulu melakukan pemasangan lantai kerja dengan merata sebelum peletakan u-Ditch.
"Karena, fungsi permulaan latai kerja untuk dapat mengontrol elevasi dengan permukaan saluran drainase yang bisa dipasangkan. Sehingga saat u- ditch precast yang sudah diturunkan bagian elevasinya bisa anda aplikasikan dengan cukup baik, kata James Sevin Simarjuntak dari lmp. Laaskar merah putih kepada Trawlmediaindonesia.id, Selasa (25/8 2026).
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan kualitas dan ketahanan konstruksi, yang berpotensi menyebabkan kerusakan dini serta tidak optimalnya fungsi drainase di kemudian hari.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait mengenai metode pelaksanaan pekerjaan tersebut. Masyarakat berharap adanya pengawasan ketat dari instansi berwenang agar proyek yang menggunakan anggaran daerah dapat berjalan sesuai standar dan memberikan manfaat maksimal bagi warga.
(Spn)


