-->
  • Jelajahi

    Copyright © Trawlmediaindonesia
    Best Viral Premium Blogger Templates

    BNPT Gandeng 13 Perguruan Tinggi DIY Perkuat Benteng Generasi Muda dari Ekstremisme Digital

    trawlmediaindonesia
    Sabtu, 03 Oktober 2026, 19:11 WIB Last Updated 2026-10-03T12:12:02Z

     

    Trawlmediaindonesia.id

    Jakarta – Ruang digital menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Di sisi lain, ruang yang sama dapat menjadi pintu masuk paparan konten kekerasan dan ekstremisme. Merespons tantangan tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggandeng 13 perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk memperkuat pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme.


    Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara BNPT dan pimpinan 13 perguruan tinggi di DIY. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang pendidikan, dialog, pengembangan berpikir kritis, sekaligus lingkungan yang mampu membangun ketahanan generasi muda dan kelompok rentan terhadap pengaruh ideologi kekerasan.


    Kepala BNPT Eddy Hartono menegaskan bahwa pencegahan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri. Perguruan tinggi, menurutnya, memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan generasi muda dan memiliki kapasitas pengetahuan untuk membaca perubahan sosial, termasuk perkembangan ancaman di ruang digital.


     "Mari kita jaga Jogja, jangan sampai anak-anak kita terpapar. Generasi mereka aktif di ruang digital ini perlu kita jaga bersama melalui kolaborasi dan sumbang pikir para rektor agar langkah mitigasi ini berjalan efektif dan tidak sia-sia," tegas Kepala BNPT.


    Kepala BNPT menjelaskan, pola paparan ekstremisme terhadap anak dan remaja kini berkembang seiring dengan perubahan ekosistem digital. BNPT sebelumnya mengungkapkan terdapat 620 anak usia 11–18 tahun di 34 provinsi yang teridentifikasi terpapar ekstremisme dan ideologi kekerasan melalui ruang digital pada periode Januari–Agustus 2026.


    Dalam paparan tersebut antara lain ditemukan dalam berbagai forum dan komunitas digital, termasuk ekosistem True Crime Community (TCC). BNPT menegaskan bahwa TCC pada dasarnya bukan jaringan terorisme. Namun, perubahan perilaku ketika anak mulai menormalisasi atau mengglorifikasi kekerasan menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai.


    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencegahan perlu dilakukan sedini mungkin, dengan melihat anak tidak hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari lingkungan sosialnya.


    "Anak-anak ini kita sentuh dengan rehabilitasi dulu dengan pendekatan mikroekologi anak. Artinya melibatkan lingkungan terdekat anak yang mencakup orang tua, sekolah/kampus, serta masyarakat sekitar," tegasnya. 


    Pendekatan tersebut sejalan dengan pentingnya intervensi pada fase awal ketika terdapat perubahan perilaku yang mengarah pada normalisasi kekerasan. Densus 88 AT Polri sebelumnya juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam menghadapi perkembangan ekstremisme berbasis kekerasan di ruang digital yang menyasar anak dan remaja.


    Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY Lilik Andi Aryanto, S.I.P., M.M., yang mewakili Gubernur DIY, menyambut baik kolaborasi BNPT dengan perguruan tinggi tersebut.


    Menurutnya, kerja sama ini mempertemukan dua kekuatan penting, yaitu kapasitas negara dalam melindungi masyarakat dan kapasitas perguruan tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta memahami dinamika manusia.


    "Kegiatan ini untuk meneguhkan komitmen bersama dalam penanggulangan terorisme. Hari ini wujud ikhtiar untuk mempertemukan dua kegiatan penting yakni kapasitas negara dalam melindungi masyarakat dan ilmu pengetahuan dalam memahami manusia," jelasnya. 


    Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun cara masyarakat menyikapi perbedaan. Kampus menjadi ruang tempat pengetahuan diuji, perbedaan dipertemukan, dan argumentasi diperdebatkan secara sehat.


    Menurut Lilik, penguatan pendidikan karakter dan kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang mampu menghadapi berbagai pengaruh di tengah perubahan lingkungan sosial dan digital.


    "Semoga dari perguruan tinggi di D.I. Yogyakarta tumbuh generasi yang bukan hanya cerdas dalam ilmu, tetapi juga jernih dalam nalar, luas dalam kemanusiaan, dan kukuh dalam menjaga kehidupan bersama," harapnya. 


    Penandatanganan MoU menjadi langkah awal untuk memperkuat kerja sama yang lebih konkret antara BNPT dan perguruan tinggi di DIY. Kolaborasi tersebut mencakup penguatan kapasitas lingkungan pendidikan, dukungan terhadap kelompok rentan, serta pembangunan resiliensi masyarakat dalam menghadapi ancaman ekstremisme berbasis kekerasan.


    Melalui kolaborasi ini, perguruan tinggi tidak hanya ditempatkan sebagai penerima program, tetapi sebagai mitra strategis BNPT dalam membangun sistem pencegahan yang berbasis pengetahuan, lingkungan sosial, dan partisipasi masyarakat.

    BNPT bersama perguruan tinggi di DIY akan terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang mampu menjadi ruang aman bagi generasi muda untuk belajar, berdialog, mengembangkan daya kritis, serta menghargai perbedaan.


    Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat ketahanan masyarakat sekaligus memastikan upaya pencegahan ekstremisme dilakukan sedini mungkin, sebelum paparan berkembang menjadi perilaku kekerasan.


    Bersama perguruan tinggi, BNPT menjaga generasi muda bukan hanya dari ancaman kekerasan, tetapi juga dengan memperkuat kemampuan mereka untuk berpikir kritis, menghargai perbedaan, dan menjaga kehidupan bersama.


    (Wly)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini