Trawlmediaindonesia.id
Jakarta – Polda Metro Jaya membantah tudingan bahwa kepolisian menyewa sejumlah orang untuk menyamar sebagai mahasiswa dalam kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda yang digelar di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026).
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menegaskan, pihak kepolisian maupun penyelenggara tidak mengetahui asal-usul sejumlah orang yang diduga merupakan mahasiswa bayaran dan ikut dalam kegiatan tersebut.
Menurut Budi, pihaknya masih melakukan penelusuran untuk mengungkap siapa yang mendatangkan orang-orang tersebut hingga bisa bergabung dengan peserta deklarasi.
"Kepolisian, penyelenggara pastinya tidak ingin, tidak mengetahui bahwa ada mahasiswa sewaan tadi," kata Budi Hermanto kepada wartawan di Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (4/11/2026).
Budi juga membantah bahwa pihak kepolisian menjadi pihak yang mengundang mahasiswa bayaran tersebut. Ia menyebut kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda tidak secara khusus diperuntukkan bagi kalangan mahasiswa, melainkan terbuka untuk seluruh elemen pemuda.
"Pasti kita akan, saya kasih buktinya, ada penyanyi yang dari Ambon, ada FBR. Namanya Sumpah Pemuda kan tidak harus mahasiswa. Seluruh pemuda boleh melaksanakan," ujarnya.
Ia menambahkan, dugaan penggunaan mahasiswa gadungan yang mengenakan jas almamater perguruan tinggi masih menjadi perhatian dan tengah didalami melalui proses investigasi.
"Nah, makanya ini audit, investigasi didalami, kenapa mahasiswa bayaran tadi bisa berada di situ menggunakan jas almamater," tutur Budi.
Budi memastikan, apabila proses penyelidikan telah rampung dan ditemukan pihak yang bertanggung jawab, sanksi akan diberikan kepada orang yang terbukti menyewa mahasiswa tersebut.
"Nah, setelah itu komprehensif, paripurna, kami akan sampaikan pasti. Dan siapa yang bertanggung jawab terhadap itu pasti akan ada sanksinya," tegasnya.
Ia kembali menepis anggapan bahwa polisi menjadi pihak yang mengundang orang-orang tersebut. Budi berjanji akan menyampaikan hasil penelusuran secara lengkap setelah seluruh proses pendalaman selesai.
"Makanya salah. Akan kita sampaikan, nanti saya akan menjawab semua runut seperti apa," ungkapnya.
Sebelumnya, keikutsertaan sejumlah orang yang mengenakan jas almamater perguruan tinggi dalam Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI menjadi sorotan publik.
Sorotan muncul setelah beberapa orang mengaku bukan mahasiswa aktif dari kampus yang identitasnya tertera pada jas almamater yang mereka kenakan.
Mereka diketahui bernama Vrisma Nurhalizah, Bayu Setiadi alias Dino, dan Sari Putri. Dalam klarifikasi masing-masing, ketiganya mengakui tidak berstatus sebagai mahasiswa aktif dari perguruan tinggi yang logonya tercantum pada almamater tersebut.
Bahkan, dua di antaranya mengaku mengikuti kegiatan itu karena mendapatkan imbalan uang. Salah satunya adalah Vrisma Nurhalizah yang mengenakan jas almamater Universitas Terbuka (UT). Ia kemudian menyampaikan permintaan maaf melalui video pernyataan bersama perwakilan Keluarga Mahasiswa Universitas Terbuka (KMUT) Jakarta pada Sabtu (31/10/2026).
Dalam video tersebut, Vrisma secara terbuka mengakui bahwa dirinya bukan mahasiswa Universitas Terbuka dan hadir dalam kegiatan deklarasi karena mendapatkan bayaran.
"Dengan ini saya menegaskan bahwa saya bukan bagian dari mahasiswa Universitas Terbuka, dan saya hadir dalam kegiatan tersebut karena adanya bayaran," tutur Vrisma dalam video pernyataannya.
Kasus dugaan penggunaan mahasiswa bayaran dengan mengenakan atribut kampus tersebut kini masih dalam penelusuran Polda Metro Jaya untuk mengungkap pihak yang berada di balik keterlibatan mereka.
(Red)


