-->
  • Jelajahi

    Copyright © Trawlmediaindonesia
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Kelompok Ahli BNPT: Rekrutmen Terorisme Kini Sasar Remaja dan Anak Lewat Ruang Digital

    trawlmediaindonesia
    Rabu, 31 Desember 2025, 16:52 WIB Last Updated 2025-12-31T09:52:38Z

    Trawlmediaindonesia.id

    Jakarta — Kelompok Akhli BNPT Bidang Kerja Sama Internasional Dr. Darmansjah Djumala menegaskan bahwa pola rekrutmen terorisme mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya dilakukan melalui pertemuan langsung, kini proses rekrutmen lebih banyak memanfaatkan ruang digital, terutama media sosial dan platform daring lainnya.


    Menurut Djumala, sasaran rekrutmen juga tidak lagi terbatas pada orang dewasa. Kelompok teroris kini menyasar remaja dan anak-anak yang dinilai lebih rentan terhadap paparan paham radikal di ruang digital. Kondisi ini dinilai berbahaya karena kelompok usia tersebut masih berada dalam fase pencarian jati diri.


    "Cara rekrutmen tidak hanya melalui tatap muka, tapi sudah melalui ruang digital. Jika dulu hanya laki-laki dan perempuan dewasa yang dijadikan sasaran rekrutmen, sekarang menyasar pada remaja dan anak. Mereka ini sangat rentan terhadap paparan radikalisme yang menggunakan piranti digital diberbagai platform media sosial," ungkapnya. 


    Mantan Duta Besar RI untuk Austria dan PBB di Wina itu menilai fenomena ini memerlukan perhatian ekstra dari seluruh pemangku kepentingan. Ia mencontohkan kasus pengeboman oleh siswa SMA 72 Jakarta Utara sebagai bukti bahwa ruang digital semakin tidak ramah bagi remaja. Konten kekerasan, termasuk informasi terkait pembuatan bahan peledak, dinilai dapat diakses dengan mudah oleh anak dan remaja.


    "Ruang digital sudah tidak ramah lagi bagi anak dan remaja yang sedang mengalami proses pencarian jati diri. Konten kekerasan, bahkan cara-cara membuat peledak pun, dengan mudah dapat diakses oleh remaja dan anak," ujarnya. 


    Lebih lanjut, Djumala mengungkapkan keprihatinannya terhadap data tahun 2025 yang menunjukkan Densus 88 telah memeriksa 112 anak yang terpapar radikalisasi melalui game online dan media sosial. Anak-anak tersebut tersebar di 26 provinsi di Indonesia, menandakan luasnya sebaran paparan radikalisme digital.


    Dalam menghadapi situasi tersebut, Djumala menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan counter narasi terhadap konten ajakan kekerasan di ruang digital. Ia menilai ruang digital saat ini telah menjadi medan utama dalam upaya pencegahan terorisme.


    “Selain melakukan counter narasi terhadap konten yang memuat paham kekerasan di media sosial, setiap kerjasama di bidang terorisme baik dalam konteks bilateral, regional maupun multilateral, perlu memasukkan isu pencegahan tindakan kekerasan oleh remaja dan anak melalui ruang digital sebagai program prioritas”, tutupnya. 


    (Wly )

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini