-->
  • Jelajahi

    Copyright © Trawlmediaindonesia
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Rieke Diah Pitaloka Soroti Kematian Aktivis Pelabuhan Ermanto di Bekasi: “Ini Bukan Perampokan”

    trawlmediaindonesia
    Sabtu, 07 Maret 2026, 22:56 WIB Last Updated 2026-03-07T15:56:21Z


    Trawlmediaindonesia.id

    Bekasi – Kematian Ermanto Usman (65) yang diduga menjadi korban pembunuhan oleh orang tak dikenal di rumahnya di kawasan Jatibening mengundang perhatian berbagai pihak. Ermanto diketahui merupakan pensiunan karyawan Jakarta International Container Terminal (JICT) sekaligus aktivis pekerja pelabuhan yang lama terlibat dalam advokasi isu korupsi di sektor pelabuhan.


    Anggota DPR RI sekaligus Ketua Umum Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI), Rieke Diah Pitaloka, mengatakan almarhum bukan sekadar pensiunan biasa. Menurutnya, Ermanto merupakan salah satu sosok penting dalam upaya mengungkap dugaan korupsi besar di sektor pelabuhan beberapa tahun lalu.


    “Pak Ermanto ini dulu karyawan JICT yang sempat di-PHK dalam kaitan kasus dugaan korupsi yang melibatkan RJ Lino. Kemudian dibentuk Pansus di DPR, kebetulan saya sebagai Ketua Pansus Pelindo-nya dengan kerugian negara mencapai triliunan rupiah bahkan kalau pakai penilaian future values itu mungkin puluhan triliun kerugian Indonesia,” ujar Rieke saat berada di rumah duka di Bekasi, Rabu (4/3/2026).


    Peristiwa pembunuhan itu terjadi pada Senin kemarin di kediaman korban. Ermanto dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami sejumlah luka. Dalam kejadian tersebut, istrinya, Pasmilawati (60), juga turut menjadi korban dan kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.


    Semasa hidupnya, Ermanto dikenal aktif dalam Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia (FPPI) yang berada di bawah naungan KRPI. Rieke menyebut almarhum merupakan rekan seperjuangan yang konsisten mengawal dugaan kerugian negara di lingkungan Pelindo yang nilainya mencapai triliunan rupiah.


    Meski telah pensiun dari JICT, kata Rieke, Ermanto tetap berkomitmen memperjuangkan upaya pemberantasan korupsi di sektor pelabuhan. Bahkan, belakangan ini ia disebut tengah berusaha membuka kembali sejumlah kasus lama yang diduga sengaja dihentikan atau “dipetieskan”.


    “Sampai terakhirnya saya yakin Pak Ermanto terus memperjuangkan agar dibukanya kasus yang terindikasi dipetieskan. Kasus korupsi di pelabuhan yang terindikasi dipetieskan,” tegasnya.


    Sekitar satu bulan sebelum meninggal dunia, Ermanto juga sempat tampil dalam sebuah podcast untuk kembali menyuarakan dugaan korupsi terkait penerbitan global bond dan proyek Kalibaru yang disebut merugikan negara. Rieke juga mengungkap bahwa sebelum kejadian, keluarga sempat menerima pesan dari Ermanto yang meminta maaf kepada anak-anaknya. Pesan itu dinilai cukup mencurigakan.


    “Ada chat yang cukup panjang bahwa bulan Februari kemarin ayahnya minta maaf, tolong diikhlaskan. Saya tidak tahu ada indikasi-indikasi apa, tapi yang jelas ayahnya pernah berpesan kepada anak-anaknya kalau ada apa-apa sama Bapak hubungi Bu Rieke,” katanya.


    Selain itu, Rieke menilai ada sejumlah kejanggalan dalam kasus tersebut. Dari hasil pengamatan di lokasi kejadian, tidak ditemukan barang berharga milik korban yang hilang, termasuk perhiasan yang berada di kamar maupun yang dikenakan korban.


    Menurutnya, pelaku hanya membawa telepon genggam, dompet, serta dua kunci mobil milik korban.


    “Ini bukan perampokan karena tidak ada barang yang hilang kecuali kunci mobil, dompet, dan handphone. Jadi saya kira perlu ada kajian dan investigasi yang lebih luas dan lebih tajam dari pihak kepolisian. Kami berharap penegakan hukum segera diambil, tentu saja bukan hanya eksekutor lapangan tapi juga otak di balik indikasi pembunuhan ini,” ujarnya.


    Saat ini, Pasmilawati masih dalam kondisi kritis di rumah sakit. Rieke menyatakan pihaknya juga akan mengajukan permohonan perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk melindungi keluarga almarhum.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini