Trawlmediaindonesia.id
Jakarta – Di tengah dinamika kehidupan metropolitan yang serba cepat, Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta dinilai memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya terkelola. Jumlah nahdliyin yang tersebar di berbagai wilayah ibu kota diperkirakan sangat besar, namun konsolidasi organisasi dari tingkat cabang hingga ranting masih menghadapi berbagai tantangan.
Dalam momentum Halal Bihalal Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta yang akan diselenggarakan Sabtu, 11 April 2026 di Kantor PWNU II Jakarta Selatan, Ketua PCNU Jakarta Utara, KH. Agus Muslim, menegaskan pentingnya menjadikan NU Jakarta sebagai “rumah besar bagi seluruh nahdliyin.”
Dalam wawancara khusus, ia menyoroti pentingnya konsolidasi organisasi, potensi warga NU di ibu kota, serta pembenahan struktur kepengurusan hingga tingkat akar rumput.
Menurut KH. Agus Muslim, Jakarta bukan hanya pusat pemerintahan dan ekonomi, tetapi juga tempat berkumpulnya warga NU dari berbagai daerah di Indonesia.
“Jakarta ini seperti miniatur Indonesia. Warga NU dari Jawa, Madura, Sumatera, hingga Kalimantan ada di sini. Potensinya sangat besar, tetapi belum semuanya terorganisasi dengan baik,” ujar KH. Agus Muslim saat ditemui di Jakarta.
Ia menjelaskan, banyak nahdliyin yang aktif dalam kegiatan keagamaan seperti majelis taklim maupun komunitas sosial. Namun, belum semuanya terhubung secara struktural dengan organisasi NU.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peran NU Jakarta sebagai rumah besar yang mampu merangkul seluruh potensi tersebut tanpa sekat kelompok maupun latar belakang.
“NU Jakarta harus menjadi rumah besar seluruh nahdliyin. Rumah yang terbuka, yang merangkul semua, baik yang sudah aktif di struktur maupun yang belum,” katanya.
KH. Agus Muslim juga menyoroti perlunya pembenahan struktur organisasi NU di tingkat wilayah hingga akar rumput. Di DKI Jakarta, struktur NU mulai dari Pengurus Cabang (PCNU), Majelis Wakil Cabang (MWC NU), Ranting NU, hingga Anak Ranting NU masih membutuhkan penguatan kelembagaan.
Menurutnya, tidak sedikit kepengurusan yang belum berjalan optimal, baik dari sisi administrasi, program kerja, maupun konsolidasi kader.
“Kita harus jujur melihat kenyataan. Masih ada MWC, ranting bahkan anak ranting yang perlu dibenahi. Ini pekerjaan rumah bersama,” ujarnya.
Pembenahan tersebut, lanjutnya, bukan semata soal struktur organisasi, tetapi juga menyangkut penguatan kaderisasi, pelayanan umat, dan kehadiran NU di tengah masyarakat perkotaan.
Di kota besar seperti Jakarta, tantangan sosial dan keagamaan juga semakin kompleks. Urbanisasi, perubahan gaya hidup, hingga dinamika sosial membutuhkan pendekatan dakwah yang lebih adaptif.
KH. Agus Muslim menilai NU memiliki modal besar melalui tradisi keilmuan pesantren, nilai moderasi beragama, dan jaringan sosial yang luas.
“NU memiliki tradisi keilmuan, kebudayaan, dan moderasi yang sangat kuat. Tinggal bagaimana kita mengelola potensi itu agar tetap relevan di tengah masyarakat kota,” katanya.
Ia berharap NU Jakarta dapat menjadi kekuatan moral dan sosial yang menyejukkan di tengah dinamika ibu kota.
Halal bihalal PWNU DKI Jakarta yang akan digelar pada 11 April 2026 dipandang sebagai momentum penting untuk memperkuat silaturahmi dan konsolidasi organisasi.
KH. Agus Muslim berharap kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ajang saling bermaafan setelah Idulfitri, tetapi juga menjadi ruang dialog untuk membangun NU Jakarta yang lebih kuat.
“Halal bihalal ini bukan sekadar tradisi. Ini momentum memperkuat ukhuwah dan menyatukan langkah agar NU Jakarta semakin solid,” ujarnya.
Ia optimistis, dengan kebersamaan dan komitmen para pengurus serta warga nahdliyin, NU di ibu kota dapat berkembang lebih baik.
“Kalau kita bersama-sama membangun NU, insyaallah NU Jakarta benar-benar menjadi rumah besar bagi seluruh nahdliyin,” pungkasnya.
(Red)


