-->
  • Jelajahi

    Copyright © Trawlmediaindonesia
    Best Viral Premium Blogger Templates

    LSI Denny JA Dukung Penuh "Taubat Ekologis": Ajakan Menteri Jumhur Tegur Keserakahan Manusia ke Alam

    trawlmediaindonesia
    Minggu, 07 Juni 2026, 22:55 WIB Last Updated 2026-06-07T15:55:59Z

     

    Trawlmediaindonesia.id 

    JAKARTA – Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, menyambut positif ajakan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat untuk melakukan "Taubat Ekologis". Menurutnya, istilah itu paling tepat dan relevan untuk menjawab krisis lingkungan saat ini.


    Pernyataan disampaikan Toto di Jakarta, Minggu 7/6/2026. Ia menilai momen ajakan Menteri Jumhur sangat tepat.


    “Ajakan Pak Menteri Jumhur itu patut disambut positif. Momennya sangat tepat,”kata Toto yang juga aktivis pengrajin bambu.


    Taubat" Lebih Menggugah dari Jargon


    Toto menyebut kata "taubat" terasa lebih kuat, menyentuh, dan menggugah dibanding jargon lingkungan yang sering didengar. Dalam konteks spiritual, taubat berarti pengakuan jujur atas kesalahan, penyesalan, berhenti berbuat salah, dan janji tak mengulangi.


    Karena itu, Taubat Ekologis harus dimaknai sebagai pengakuan kolektif: manusia sudah banyak berdosa ke alam.


    “Dosa kita menebang hutan tanpa cukup memikirkan pemulihannya. Kita mengeruk kekayaan bumi tanpa menghitung daya dukung lingkungan. Sungai jadi tempat buang limbah, gunung dikeruk, laut dicemari, lahan produktif dialihfungsikan. Intinya, alam selama ini lebih dipandang sebagai objek eksploitasi daripada ruang kehidupan yang harus dihormati,” tegasnya.


    Bencana Bukan Hukuman Alam, Tapi Konsekuensi 


    Bagi Toto, banjir, longsor, kekeringan, krisis air bersih, pencemaran udara, kebakaran hutan, kerusakan pesisir, dan kenaikan suhu bumi bukan datang begitu saja. Di baliknya ada keserakahan, kelalaian, pembiaran, serta kebijakan tak ramah lingkungan.


    “Ancaman ekologis bukan semata-mata hukuman alam, melainkan konsekuensi perbuatan manusia sendiri,” ujarnya.


    Taubat Harus Dibuktikan, Bukan Diucap


    Toto mengingatkan: taubat tanpa perubahan perilaku hanya jadi kata-kata. Taubat Ekologis tanpa perbaikan kebijakan dan kerja nyata hanya slogan kosong.


    Ia mendesak pemerintah segera terjemahkan ajakan itu ke langkah konkret: evaluasi izin usaha perusak lingkungan, tindak perusahaan pencemar, pulihkan kawasan kritis, hentikan pembangunan yang melampaui daya dukung alam.


    Taubat Ekologis juga tak boleh dibebankan ke rakyat kecil saja. “Jangan sampai masyarakat diminta kurangi plastik dan tanam pohon, sementara industri besar terus buang limbah, rusak hutan, keruk SDA tanpa pengawasan tegas. Taubat Ekologis harus berlaku untuk semua: pemerintah, dunia usaha, masyarakat, individu,” katanya.


    2 Miliar Pohon: Bagus, Tapi Harus Terukur  


    Toto juga dukung gagasan tanam 2 miliar pohon. Itu langkah cerdas untuk perbaiki tutupan lahan, serap karbon, jaga sumber air, kurangi banjir-longsor, dan pulihkan ekosistem.


    Tapi angka besar itu tak boleh hanya jadi pidato. Publik butuh penjelasan terukur: pohon apa, di mana, berapa luas lahan, siapa tanam & rawat, dari mana anggaran.


    “Keberhasilan penghijauan bukan diukur dari bibit yang ditanam saat seremoni. Ukuran sebenarnya: berapa pohon yang masih hidup setelah 1 tahun, 3 tahun, 10 tahun,” tegas Toto.


    Ia menekankan, menanam itu mudah. Yang sulit memastikan pohon tumbuh, dirawat, terlindungi, dan beri manfaat ekologis-ekonomi ke masyarakat.


    Pemilihan jenis pohon juga krusial. Jangan kejar jumlah, tapi sesuaikan dengan tanah, iklim, ekosistem, dan kebutuhan warga.


    “Di sumber air tanam pohon hidrologis. Di rawan longsor pakai tanaman berakar kuat. Di kota butuh pohon peneduh penyerap polusi. Di desa kembangkan tanaman produktif bernilai ekonomi,” tutup Toto.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini