Trawlmediaindonesia.id
Bekasi – Proyek Program Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Pembangunan Tanggul Sungai Konsolidasi Pembangunan Tanggul Sungai Paket 03, tepatnya pembangunan turap di wilayah RT 05 RW 05, Kelurahan Mustikajaya, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, menjadi sorotan tajam. Sejumlah dugaan penyimpangan teknis di lapangan bahkan mengandung indikasi kuat adanya "permainan proyek", Minggu (13 /9/2026).
Proyek yang berada di bawah naungan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi ini tercatat memiliki nilai kontrak Rp88.672.524.juta bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pekerjaan dilaksanakan oleh penyedia jasa CV. Nur Abadi Perkasa dengan waktu pelaksanaan ditetapkan selama 60 hari kalender.
Namun, hasil investigasi mendalam di lapangan menemukan berbagai kejanggalan serius yang tidak dapat diabaikan.
Jarak Tulangan Terlalu Renggang, Diameter Besi Dikurangi
Salah satu temuan paling mencolok terdapat pada struktur pembesian. Berdasarkan pengukuran langsung di lokasi menggunakan alat ukur meter , jarak antar tulangan besi tercatat mencapai 19–23 cm, jauh lebih lebar dibandingkan standar pekerjaan sejenis yang umumnya berkisar ±15 cm.
Selain itu, pengukuran pada behel cincin menunjukkan dugaan pengurangan spesifikasi: seharusnya menggunakan besi diameter 10 mm, namun yang terpasang justru berukuran 5 mm. Selisih kecil ini mengindikasikan adanya pengurangan spesifikasi material yang secara langsung berdampak pada penurunan kekuatan struktur turap.
Pemasangan Miring, Selimut Beton Nyaris Tak Ada
Kondisi pemasangan tulangan pun memprihatinkan. Beberapa rangka besi terpasang tidak tegak lurus atau miring, yang berpotensi mengurangi kestabilan struktur secara keseluruhan.
Masalah lain yang tak kalah krusial adalah ketiadaan selimut beton (cover beton) yang memadai. Tulangan besi terlihat terlalu dekat dengan permukaan, bahkan sebagian terekspos. Padahal, selimut beton berfungsi vital untuk melindungi besi dari korosi serta menjaga umur layanan konstruksi dalam jangka panjang.
Kualitas pengecoran juga dipertanyakan. Beton terlihat tidak padat, berpori-pori, dan tidak menunjukkan hasil pemadatan yang baik. mengindikasikan lemahnya pengendalian mutu di lapangan.
"Ini Bukan Lagi Kelalaian, Tapi Dugaan Permainan Proyek"
James Sevin Simanjuntak dari LMP Laskar Merah Putih, pemerhati pembangunan infrastruktur Kota Bekasi, menilai temuan-temuan tersebut sudah melampaui batas kelalaian biasa.
"Ini bukan lagi sekadar kelalaian teknis. Kalau jarak besi diperlebar, diameter dikecilkan, selimut beton hampir tidak ada, dan pemasangan miring — ini patut diduga ada upaya menekan biaya demi keuntungan sendiri. Ini sudah masuk dugaan permainan proyek," tegas James.
Ia juga menyoroti lemahnya fungsi pengawasan yang seharusnya menjaga kualitas pekerjaan di lapangan.
"Tidak mungkin semua ini terjadi tanpa ada pembiaran. Fungsi pengawas dinas patut dipertanyakan. Ini uang rakyat, bukan proyek pribadi. Tidak boleh dibiarkan begitu saja," tegasnya.
Turap Terancam Rusak Dini, Masyarakat Desak Audit
Jika kondisi ini dibiarkan, turap yang dibangun dikhawatirkan tidak memiliki daya tahan yang memadai terhadap tekanan air dan beban tanah, sehingga berpotensi mengalami kerusakan dini. Hal ini pada akhirnya akan merugikan keuangan daerah serta membahayakan warga yang tinggal di sekitar lokasi.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana CV. Nur Abadi Perkasa maupun Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Bekasi belum memberikan klarifikasi resmi terkait temuan-temuan tersebut.
Masyarakat mendesak Pemerintah Daerah Kota Bekasi serta aparat penegak hukum untuk segera turun tangan, melakukan audit menyeluruh, dan membongkar setiap penyimpangan yang terjadi dalam proyek yang dibiayai dari anggaran publik ini.
(Spn)


