Trawlmediaindonesia.id
Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi mengambil langkah tegas terkait pelestarian budaya Betawi. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa penggunaan ondel-ondel untuk mengamen di jalanan kini dilarang karena dinilai tidak sesuai dengan nilai budaya yang dikandungnya.
Kebijakan tersebut disampaikan Pramono saat berada di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Ia menegaskan bahwa ondel-ondel merupakan simbol penting yang merepresentasikan identitas Betawi dan Jakarta, sehingga harus dijaga kehormatannya.
"Mengenai ondel-ondel, kami sudah membuat keputusan untuk melarang ondel-ondel di jalanan. Ondel-ondel itu adalah sesuatu trademark atau ikon tentang Betawi, tentang Jakarta," ujar Pramono.
Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta belum akan langsung menerapkan sanksi bagi para pelanggar. Pendekatan persuasif melalui edukasi akan menjadi langkah awal sebelum penindakan dilakukan. Pramono juga meminta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk mulai melakukan pengawasan di lapangan.
"Yang pertama tentunya kami akan memberikan edukasi bagi pengamen ondel-ondel. Dan di tempat-tempat seperti itu (jalanan) saya minta untuk Satpol PP melarang," tegasnya.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya Betawi, Pemprov DKI Jakarta juga berencana menggelar pertunjukan ondel-ondel secara lebih meriah dalam rangka peringatan 500 tahun Kota Jakarta pada tahun mendatang.
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, sebelumnya mengungkapkan bahwa larangan penggunaan ondel-ondel untuk mengamen juga akan dimasukkan ke dalam rancangan Peraturan Daerah (Perda) tentang Lembaga Adat Betawi yang saat ini tengah disusun.
"Kebetulan kami sedang menyusun satu Perda tentang Lembaga Adat Betawi. Nah, ini kita akan masukkan supaya dia (ondel-ondel) tampil di tempat yang pantas untuk tampil, intinya seperti itu," ujar Rano.
Rano menambahkan, ondel-ondel bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari warisan budaya Betawi yang memiliki nilai sejarah dan filosofi mendalam. Ia menyayangkan jika kesenian tersebut hanya dipandang sebagai ornamen jalanan.
"Dalam waktu ke belakang memang kita lihat hanya dianggap ornamen mainan, nah itu yang membuat prihatin," pungkasnya.
(Ris)


