Trawlmediaindonesia.id
Bekasi – Proyek rehabilitasi jalan dan pemasangan saluran U-Ditch di wilayah Mustikajaya yang dikerjakan oleh Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Bekasi ini berlokasi di jalan bayan 1, Kecamatan Mustikajaya Kota Bekasi, Dua item pekerjaan, yakni pengaspalan dan pemasangan U-Ditch, diduga tidak dilaksanakan sesuai standar teknis di lapangan.
Berdasarkan papan proyek, pekerjaan ini dilaksanakan oleh CV Putra Bonansa Jaya dengan nilai kontrak sebesar Rp 2.661.222.868,00 yang bersumber dari APBD Kota Bekasi Tahun Anggaran 2026, dengan waktu pelaksanaan 78 hari kalender.
Informasi teknis pekerjaan pengaspalan dengan panjang 422 meter, lebar 5 meter, dan ketebalan 10 cm diperoleh dari Yuda selaku penyuplai aspal di lokasi. Berdasarkan data tersebut, kebutuhan ideal aspal diperkirakan mencapai sekitar ±485 ton.
Sementara itu berdasarkan hasil pantauan di lapangan volume pengaspalan sebesar 475 ton, sehingga terdapat selisih kekurangan sekitar ±10 ton aspal dari kebutuhan ideal.
Selisih tersebut diduga berdampak pada ketebalan lapisan yang tidak sesuai spesifikasi. Akibatnya, kualitas jalan berpotensi menurun, mulai dari permukaan yang tidak merata hingga daya tahan yang lebih cepat rusak.
Dari pantauan di lokasi, proses pengaspalan tetap dilakukan meski kondisi jalan masih basah dan terdapat genangan air. Tanpa proses pengeringan, material aspal langsung digelar, yang berisiko mengurangi daya lekat terhadap permukaan dasar.
Sejumlah warga mengaku kecewa dengan hasil pekerjaan tersebut. Mereka menilai kualitas pengaspalan tidak merata dan berbeda di tiap titik.
“Baru juga selesai, tapi sudah kelihatan tidak rata. Di depan rumah saya kasar, sementara di tempat lain justru halus,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Sorotan utama juga tertuju pada pekerjaan U-Ditch. Di lapangan, terlihat sejumlah unit mengalami retak, pecah, dan tampak kumuh meski baru terpasang.
Awak media kemudian melakukan konfirmasi kepada pihak terkait. Konsultan lapangan, Andi, mengakui adanya keretakan pada U-Ditch serta menjelaskan bahwa pemasangan dilakukan tanpa lantai dasar.
“Iya, itu retak. Untuk lantai dasar memang tidak ada, hanya pakai pasir saja,” ujar Andi.
Namun saat dikonfirmasi lebih lanjut melalui pesan WhatsApp terkait panjang dan lebar pekerjaan pengaspalan, Andi tidak memberikan jawaban.
Sementara itu, pelaksana teknis bernama Tegar saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa pihaknya telah memberikan teguran kepada pelaksana.
“Sudah saya tegor, nanti diperbaiki,” ucap Tegar.
Dalam proses peliputan, awak media juga sempat meminta dilakukan uji suhu aspal di lokasi. Namun permintaan tersebut tidak diperbolehkan oleh pihak pelaksana bernama Jun. Bahkan, saat dimintai penjelasan, pihak di lapangan mempertanyakan kewenangan media.
“Apa hak situ minta uji suhu aspal?” ujar pihak pelaksana.
Padahal, pengawasan oleh media merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai standar teknis dan transparan.
Selain itu, di lapangan juga ditemukan bahwa beberapa titik jalan yang berlubang tidak dirapikan maupun dipadatkan sebelum dilakukan pengaspalan, yang berpotensi mempercepat kerusakan.
Distribusi material pengaspalan juga terpantau tidak konsisten, yakni hari pertama 5 truk, hari kedua 5 truk, hari ketiga 3 truk, dan hari keempat kembali 5 truk.
Tak hanya soal kualitas pekerjaan, aspek keselamatan kerja pun menjadi perhatian. Awak media menemukan adanya pekerja yang tertidur di atas alat berat tanpa adanya teguran dari pihak terkait.
Dengan berbagai temuan tersebut, masyarakat berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap proyek ini, baik pada pekerjaan pengaspalan maupun U-Ditch, agar kualitas pembangunan sesuai standar dan tidak merugikan kepentingan publik.
(Spn)


