-->
  • Jelajahi

    Copyright © Trawlmediaindonesia
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Cegah Banjir di Rawalumbu, Tri Adhianto Resmikan Turap dan Dorong Penanganan hingga Jembatan Carita

    trawlmediaindonesia
    Jumat, 14 Agustus 2026, 23:39 WIB Last Updated 2026-08-14T16:39:32Z

    Trawlmediaindonesia.id

    Kota bekasi – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto meresmikan pembangunan turap di Daerah Aliran Sungai (DAS) Rawalumbu, kawasan Perumahan Bumi Bekasi Baru, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Bekasi memperkuat pengendalian banjir di wilayah Rawalumbu.


    Keberadaan turap dinilai penting mengingat aliran Kali Rawalumbu melintasi kawasan permukiman warga, termasuk tiga RW di Kelurahan Pengasinan dan tiga RW di Kelurahan Sepanjang Jaya, Kamis (13/8/2026).


    Saat meresmikan turap, Tri menegaskan bahwa penanganan Kali Rawalumbu tidak boleh dilakukan secara parsial. Menurutnya, pengendalian banjir harus dirancang secara menyeluruh dari bagian hulu hingga hilir.


    “Jembatan dari titik pertama sampai Carita sudah sangat bagus. Tetapi saya minta jangan berhenti di sini, harus kita lanjutkan sampai Jembatan Carita. Karena ketika Jembatan 0 dibangun, justru kita melihat air meluap. Artinya, penanganannya harus kita lihat secara utuh dari hulu sampai hilir,” ujar Tri.


    Ia mengatakan, pembangunan infrastruktur pengendalian banjir juga harus disertai perencanaan yang matang dan pemeliharaan secara berkelanjutan. Menurutnya, fasilitas yang telah dibangun tidak boleh hanya mendapat perhatian saat proses pembangunan dan peresmian.


    “Persoalan kita klasik. Jangan sampai setelah dibangun kemudian kita tidak peduli ke depannya. Jangan karena baru dibuat, perhatiannya hanya di awal. Setelah itu harus ada pemeliharaan,” tegasnya.


    Tri juga menyoroti pentingnya efisiensi anggaran dalam menjalankan program pembangunan. Ia menyebut Pemerintah Kota Bekasi melakukan sejumlah penghematan agar anggaran tetap dapat diarahkan untuk kepentingan masyarakat.


    “Efisiensi kita hampir Rp500 miliar. Biasanya sekitar Rp7 triliun, sekarang menjadi sekitar Rp6,5 triliun. Ada beberapa yang kita kurangi, seperti snack dan kopi, termasuk pelaksanaan upacara yang tidak lagi menggunakan tenda. Pemerintah harus mengalah, karena uang yang berasal dari masyarakat harus kita kembalikan lagi kepada masyarakat,” jelas Tri.


    Selain itu, ia meminta program pembangunan berbasis kewilayahan, termasuk dukungan anggaran Rp100 juta, disusun berdasarkan perencanaan dan skala prioritas yang jelas.


    “Rp100 juta itu harus punya perencanaan. Mana yang menjadi prioritas di wilayah, itu yang harus kita kerjakan. Jangan sampai semua ingin dikerjakan tetapi tidak ada yang optimal,” katanya.


    Tri menambahkan, pemeliharaan berbagai fasilitas lingkungan harus menjadi tanggung jawab bersama. Tidak hanya turap, tetapi juga taman, saluran air, serta infrastruktur lainnya perlu dijaga agar tetap berfungsi dengan baik.


    Semangat tersebut, lanjutnya, sejalan dengan program Lingkar Keren yang mendorong pemerintah dan masyarakat di tingkat wilayah untuk mengidentifikasi persoalan sekaligus mencari solusi sesuai kebutuhan masing-masing lingkungan.


    “Lingkar Keren ini harus menjadi upaya untuk menjawab persoalan di masing-masing wilayah. Semua kecamatan dan RW bisa memanfaatkan program ini, sehingga apa yang menjadi masalah di lingkungan bisa kita carikan jawabannya bersama,” pungkasnya.


    (Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini